Minggu, 29 Juli 2012

PROSPEK PENDIDIKAN KESEHATAN LINGKUNGAN PADA MASA DEPAN



I.       Tantangan dan Peluang
  1. Tantangan Situasional
1.      Globalisasi
2.      Nasional (program pembangunan)
3.      Otonomi Daerah
4.      Konsumen
5.      Tuntutan Standar Operasional Institusi Pendidikan (Otonomi, akuntabilitas, jaminan mutu dan trasparan)
6.      Tuntutan Pertumbuhan dan Perkembangan Kelembagaan Pendidikan/ Ketenagaan Kesehatan Lingkungan
a.       Pengembangan Keilmuan
b.      Pertumbuhan dan perkembangan kelembagaan
  1. Peluang
  1. Essensi Pelayanan Kesehatan Lingkungan sebagai Upaya Preventif dan Promotif
  2. Pendayagunaan Tenaga Kesehatan Lingkungan
  3. Pelayanan Kesehatan Lingkungan/Sanitasi Lingkungan yang Mandiri (Klinik Sanitasi)

II.    Pendekatan Pemecahan Masalah Pelayanan Kesehatan Lingkungan
  1. Pendekatan Sistem
  2. Pendekatan Paradigma Kesehatan dan Paradigma Kesehatan Lingkungan
  3. Pendekatan Epidemiologi
  4. Pendekatan Ekologi

III. Program-Program Pembangunan Kesehatan Lingkungan
  1. Program Pembangunan Pelayanan Kesehatan Lingkungan
  2. Program Pembangunan Pelayanan Kesehatan Lingkungan yang terkait

IV. Prospek Tenaga Kesehatan Lingkungan Pada Masa Depan
  1. Prospek pada Pelayanan Kesehatan Lingkungan Pemerintah
  2. Prospek pada Pelayanan Kesehatan Lingkungan di Swasta
1.      Kawasan Industri
2.      Kawasan Transportasi
3.      Kawasan Perumahan
4.      Kawasan Tempat-Tempat Umum

V.    Simpulan


I.             Tantangan dan Peluang

A.    Tantangan Situasional

1.      Tatangan Global
Adanya perobahan pada suatu belahan dunia akan memberi pengaruh pada belahan dunia lainnya. Demikian pula halnya pelaksanaan pembangunan yang dilaksanakan yang titik akhirnya akan dipengaruhi oleh perkembangan di dunia perdagangan. Perdagangan global seperti kerjasama eknomi Asia Pasifik (APEC), AFTA, WTO, wilayah regional (ASEAN), wilayah bilateral (MALINDO), semuanya bermuara kearah pasar bebas.

Hal ini menuntut adanya regulasi dan deregulasi dalam upaya memberi keamanan kepada para investor, konsumen, upah buruh dan perlindungan lingkungan (ISO 9000, ISO 14000 dll)

2.      Nasional (program pembangunan)
Kebijakan nasional tertuang di dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah dan Jangka Panjang.
Tantangan ini tertuang dalam program-program pembangunan tahunan
Program-Program Pembangunan Kesehatan Lingkungan dan Program Kesehatan Lingkungan terkait meliputi sbb.;

a.       Program Kesehatan Lingkungan meliputi sbb.;
Program Lingkungan Sehat
Kegiatan Pokok meliputi sbb.:
1)      Penyediaan sarana air bersih dan sanitasi dasar
2)      Pemeliharaan dan pengawasan kalitas lingkungan
3)      Pengendalian dampak risiko pencemaran lingkungan; dan
4)      Pengembangan wilayah sehat

b.      Program Kesehatan Lingkungan terkait meliputi sbb.;
1)      Program Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat
Kegiatan Pokok terkait dengan Kesehatan Lingkungan meliputi sbb.:
a)      Pemngembangan Media promosi kesehatan dan teknologi komunikasi, informasi dan edukasi (KIE)
b)      Pengembangan upaya kesehatan bersumber masyarakat seperti Posyandu , UKS dan generasi muda
c)      Peningkatan pendidikan kesehatan kepada masyarakat (dalam hal KL)
2)      Program-Program Upaya Kesehatan Masyarakat
Kegiatan Pokok terkait dengan KL meliputi sbb.;
a)      Pelayanan kesehatan penduduk miskin di Puskesmas dan jaringannya
b)      Pengadaan, peningkatan dan perbaikan sarana dan prasarana Puskesmas dan jaringannya
c)      Pengadaan peralatan dan perbekalan kesehatan termasuk obat generic essensial
d)     Peningkatan pelayanan kesehatan termasuk kesehatan lingkungan
e)      Penyediaan biaya operasional dan pemelihraan

3)      Program Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit
Kegiatan pokok terkait dengan KL meliputi sbb.:
a)      Pencegahan dan penanggulangan factor risiko
b)      Penemuan dan tatalaksana penderita
c)      Peningkatan surveilans epidemiologi dan penanggulangan wabah
d)     Peningkatan komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) pencegahan dan pemberantasan penyakit

4)      Sumber Daya Kesehatan
Kegiatan pokok meliputi sbb.:
a)      Perencanaan kebutuhan tenaga kesehatan (KL)
b)      Peningkatan ketterampilan dan profesionalisme tenaga kesehatan mellaui pendidikan dan pelatihan tenaga kesehatan
c)      Pemenuhan kebutuhan tenaga kesehatan di Puskesmas dan jaringannya serta rumah sakit
d)     Pembinaan tenaga kesehatan
e)      Penyusunan standar kompetensi dan regulasi profesi kesehatan (KL)

5)      Program Kebijakan dan Manajemen Pembangunan Kesehatan
Kegiatan pokok meliputi sbb.:
a)      Pengkajian dan penyusunan kebijakan
b)      Pengembangan system perencanaan dan penganggaran, pelaksanaan dan pengen-dalian, pengawasan dan penyempurnaan administrasi keuangan, serta hukum Kes.
c)      Pengembangan system informasi Kes.
d)     Pengembangan system kesehatan daerah, dan
e)      Peningkatan jaminan pembiayaan kesehat-an masyarakat secara kapitasi dan pra upaya terutama bagi penduduk miskin yang berkelanjutan
6)      Program Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Kegiatan Pokok meliputi sbb.:
a)      Penelitian dan pengembangan
b)      Pengembangan tenaga peneliti, sarana dan prasarana penelitian dan
c)      Penyebarluasan dan Pemeliharaan hasil penelitian dan pengembangan kesehatan

3.      Otonomi Daerah
Amanat UU Dasar th.1945 Pasal 18, diikuti dengan UU No.1 Th.1945, UU No.22 th. 1948, UU. No.1 th. 1957, Pempres No.6 th. 1969, Penpres No.5 th. 1960,
UU. No.18 th. 1965 dan 1974 (UU.No.5) tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah. UU. No. 22 th. 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan UU No.25 th. 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah.

Pasal 11 (2) UU No.22 th.1999, dinyatakan bahwa Bidang pemerintahan yang wajib dilaksanakan oleh Daerah Kabupaten dan Daerah Kota meliputi pekerjaan umum, kesehatan, pendidikan dan kebudayaan, pertanian, perhubungan, industri dan perdagangan, penanaman modal, lingkungan hidup, perumahan, koperasi, dan tenaga kerja.

Pelaksanaan otonomi daerah dipengaruhi oleh perkembangan lingkungan strategis, baik nasional maupun internasional, dan gerakannya sangat cepat dan sifatnya dinamis. Perkembangan ini membuka peluang secara terbuka kepada pelaksanaan Otonomi Daerah yang menetapkan bahwa reformasi merupakan momentum yang tepat bagi realisasi Otonomi Daerah, sehingga potensi sumber daya daerah akan terangkat di dalam era globalisasi. Namun kendala utamanya adalah krisis politik yang belum selesai sampai saat ini.

Titik berat Otonomi Daerah adalah Daerah Tingkat II yaitu Kab. dan Kota, sedang Propnsi merupakan wilayah administratif.  Dampak adalah makin besarnya urusan yang diserahkan kepada Daerah diperlukan tenaga profesional baik di propinsi, maupun daerah otonom
4.      Konsumen

Batasan konsumen bukan saja pada masyarakat umum, tetapi juga masyarakat khusus seperti industri jasa (transportasi, tempat-tempat umum), industri produksi dan manufaktur, instansi pemerintah, dan lainnya.

Untuk itu diperlukan teknologi produktif, yang berorientasi pada lingkungan dan kesehatan masyarakat, maka dikembangkan Bapedal, Meneg PPLH, Komosi-komisi AMDAL dan berbagai upaya swasta yang memberi perhatian pada masalah dampak terhadap lingkungan.

5.      Tuntutan Standar Operasional Institusi Pendidikan (Standar Pendidikan Nasional)

Suka tidak suka, mau tidak mau, maka setiap unit pndidikan harus menjalankan Standar Pendidikan Nasional (SPN) meliputi otonomi, akuntabilitas, jaminan mutu dan evaluasi yang transparan.

Terkait dengan jaminan mutu maka unit pelaksana pendidikan harus selalu melakukan perobahan mengikuti kebutuhan para stakeholder (mahasiswa, orang tua, pemerintah dan para dosen) maka pengelola unit pendidikan harus menlaksanakannya,

Peningkatan mutu harus selalu disesuaikan dan berkelanjutan (”continous improvement”) dan sesuai dengan SPN
6.      Tuntutan Pertumbuhan dan Perkembangan Kelembagaan Pendidikan/Ketenagaan Kesehatan Lingkungan

a.       Pengembangan Keilmuan
Bila dibandingkan dengan ilmu dan teknologi kesehatan masyarakat, kesehatan lingkungan memang lebih khusus. Namun bila ditinjau dari aspek-aspek dan komponen-komponennya, kesehatan lingkungan ini sendiri masih bersifat umum dan sudah saatnya untuk dikembangkan lebi tajam kearah konsentrasi-konsentrasi yang lebi tajam.

Demikian halnya perbedaan antara pendidikan akdemik dan pendidikan keahlian. Semakin tinggi pendidikan akademik, semakin luas wawasan ilmiahnya. Sedang pendidikan keahlian semakin tinggi semakin khusus bidang keahliannya.

Departemen Kesehatan juga mengembangkan dua hal meliputi; 1) ketenagaan (APK menjadi AKL, bergabung dalam Politenik Kesehatan menjadi Jurusan Kesehatan Lingkungan Diploma III, selanjutnya dikembangan Program Diploma IV sejak th. 2008) dan 2) pengembangan program (dikembangan Analisis Dampak Kesehatan Lingkungan sejak tahun 1993)
Tuntutan Standar Operasional Pelayanan, di mana selama ini upaya kesehatan lingkungan dilaksanakan oleh tenaga lulusan D1, D3, S1 dan S2, mereka terdistribusi pada tugas-tugas perencanaan (S1 dan S2) dan tugas-tugas operasional (D1 dan D3).
Bila dicermati perkembangan tuntutan di atas maka kualifikasi jajaran opersional perlu ditingkatkan. Tuntutan kualitas dan kuantitas semakin hari semakin meningkat.

Kualifikasi yang dituntut bukan saja kemampuan, tetapi juga jenjangnya. Upaya peningkatan kemampuan dan jenjang mutlak diperlukan dalam rangka menghadapi era persaingan bebas yang sudah sangat dekat.

Upaya kesehatan lingkungan bukan hanya tanggung jawab Departemen Kesehatan RI, tetapi juga departemen lainnya seperti Departemen Perindustrian, Pariwisata, Pertanian dan sektor lainnya.

b.      Pertumbuhan dan perkembangan kelembagaan

Meantisipasi pelaksanaan pasar bebas Asean, APEC, maka pengembangan kelembagaan seperti Poltekkes Makassar Jurusan Kesehatan Lingkungan, dengan peningkatan spesialisasi dan jenjang ke Diploma-Empat dan bila memungkinkan dengan ketersediaan sumber daya diusulkan ke Spesialisasi Satu dengan konsentrasi-konsentrasi yang lebih tajam.

B.     Peluang

1.      Visi, misi, sasaran dan arah kebijakan Departemen Kesehatan
Visi;  Masyarakat Sehat yang Mandiri dan Berkeadilan (2010-2014)
Misi Depkes RI (2010-2014)
1)      Meningkatkan derjat kesehatan masyarakat melalui pemberdayaan masyarakat termasuk swasta dan masyarakat madani
2)      Melindungi ksehatan masyarakat dengan menjamin tersedianya upaya kesehatan yang paripurna, merata, bermutu dan berkeadilan
3)      Menjamin ketersediaan dan pemerataan sumberdaya kesehatan dan
4)      Menciptakan tata kelola kepemerintahan yang baik

Salah satu strategi Depkes (2010-2014) adalah:
Meningkatkan pengembangan dan pendayagunaan SDM kesehatan yang merata dan bermutu

Sasaran utamanya adalah menurunkan angka kematian bayi dari 35 menjadi 26 per 1000 kelahiran hidup serta

Arah kebijakan ditujukan pada peningkat kuantitas dan kualitas tenaga kesehatan dan sosialisasi kesehatan lingkungan dan pola hidup sehat di samping persyaratan dan peningkatan kualitas fasilitas kesehatan dasar

      Amanat UU No.36 tah. 2009 tentang Kesehatan
      Perimbangannya:

1)      Kes. adalah hak asasi manusia
2)      Prinsip non diskriminatif, partisipatif dan berkelanjutan
3)      gangguan kesehatan menimbulkan gangguan ekonomi
4)      setiap upaya pembangunan harus dilandasi dengan wawasan Kesehatan Lingkungan

Hal-hal yang perlu dicermati sbb.:
1)      Pasal 1 (Sumber Daya Kesehatan, tenaga kesehatan)
2)      Pasal 16 (tanggung jawab pemerintah)
3)      Pasal 21 (perencanaan, pengadaan, pendayagunaan, pembinaan, dan pengawasan mutu tenaga kesehatan dan Pengaturan dengan UU Tenaga Kesehatan)
4)      Pasal 22 (Kualifikasi miminum)
5)      Pasal 23 (Izin bagi tenaga kesehatan)
6)      Pasal 24 (kode etik, standar profesi, hak pengguna pelayanan kesehatan, standar pelayanan, dan standar prosedure operasional)
7)      Pasal 162 dan Pasal 163 (kesehatan lingkungan)

2.      Essensi Pelayanan Kesehatan Lingkungan sebagai Upaya Preventif dan Promotif

Konsep awal penyebab penyakit adalah lingkungan, dapat kita lihat konsep ”niasma theory” yang dikenal dengan ”ma area” atau udara buruk.
Hasil penyelidikan John Snow di Inggris menyimpulkan bahwa lingkunganlah sebagai mata rantai terjadinya penularan penyakit. Sehingga muncul semboyan ”Prevention is better than care”
yang ditopang dengan pemahaman mekanisme peranan lingkungan dalam konteks penularan penyakit.

Selanjutnya memunculkan batasan sbb.:
”sanitation is the prevention of disease by eliminating or controlling the environmental factors which form links in the chain of transmission” (WHO)
(Sanitasi adalah tindakan pencegahan penyakit dengan memutus atau mengendalikan faktor lingkungan yang menjadi mata rantai penularan penyakit.

Perkembangan selanjutnya adalah dengan perkembangan IPTEK mendorong kerusakan lingkungan secara kuantitatif meningkat secara kualitatif secara kompleks. Terkait dengan masalah ini para ahli menyampaikan konsep baru tentang penyakit yaitu konsep kesehatan lingkungan.

3.      Pendayagunaan Tenaga Kesehatan Lingkungan.

Berkembangnya Desa Siaga yang memberi peluang di samping tenaga Bidan (menangani masalah kesehatan yang ringan), Gizi (melakukan deteksi dini terhadap maslah yang dihadapi masyarakat) dan tenaga Kesehatan Lingkungan (Sanitasi) yang diharapkan menangani segala faktor lingukungan yang memberi pengaruh pada masalah kesehatan dalam wilayah kerjanya.
4.      Rendahnya kondisi kesehatan lingkungan

Perilaku masyarakat yang kurang mendukung pada hidup bersih dan sehat

Rendahnya kondisi kesehatan  lingkungan: Info thn 2002 persentase masyarakat yang akses terhadap air bersih sekitar 50% rumah tangga dan sanitasi dasar sekitar 63,5%. Kesehatan lingkungan yang merupakan kgiatan lintas program dan lintas sektor belum dikelola dalam suatu sistem kesehatan kewilayahan
Sampai saat ini penyakit yang berbasis lingkungan masih menjadi masalah kesehatan masyarakat, seperti penyakit Demam Berdarah Dengue sekitar 0,019/1.000 penduduk, angka kematian pada kejadian luar biasa (KLB) 3/1.000 penduduk. Penyakit TB Paru, diperkirkan oleh WHO (th.1999) setiap tahun di Indonesia terjadi 583.000 kasus baru, kematian sekitar 140.000 orang, artinya setiap 100.000 penduduk terdapat 130 penderita TB Paru BTA positip.
Proporsi penderita Pneumonia Balita yang berobat ke Puskesmas sekitar 3/10.000 Balita (th.2002). Diare sesuai hasil survei Sub Direktorat Diare dan Penyakit Pencernaan ditemukan insiden Diare 374/1.000 penduduk (th.2003), Malaria dengan Annual Malaria Incidence (AMI) sekitar 22,27/1.000 pddk, yaitu kesakitan Malaria tanpa konfirmasi laboratorium dan Annual Parasite Incidence (API) yaitu angka kesakitan malaria dengan konfirmasi laboratorium sekitar 0,47/1.000 pddk (tahun 2002).
Masalah ini diketahui, terbanyak terdapat di wilayah kerja Puskesmas dan penyakit terbanyak adalah yang terkait dengan kesehatan lingkungan. Demikian pula upaya pengobatan penyakit dan upaya peningkatan dan perbaikan kualitas lingkungan dikerjakan tersendiri, tidak terintegrasi dengan upaya terkait lainnya.

Petugas medis dan atau paramedis melaksanakan upaya penyembuhan dan pengobatan tanpa memperdulikan kondisi lingkungan perumahan/permukiman si pasien. Di sisi lain petugas kesehatan lingkungan melakukan upaya kesehatan lingkungan  tanpa memperhatikan permasalahan penyakit dan atau kesehatan masyarakat di lokasi/kawasan tersebut.

Integrasi upaya kesehatan lingkungan dan upaya pemberantasan penyakit berbasis lingkungan semakin relevan dengan diterapkannya Paradigma Sehat untuk upaya-upaya kesehatan dimasa mendatang (Hasil Rapat Kerja Menteri Kesehatan RI dengan Komisi VI DPR-RI, tanggal 15 September 1998). Dengan paradigma ini maka pembangunan kesehatan lebih terfokus pada upaya promotif dan preventif dibanding upaya kuratif dan rehabilitatif.

5.      Pelayanan Kesehatan Lingkungan/Sanitasi Lingkungan yang Mandiri (Klinik Sanitasi)
Melalui Klinik Sanitasi diharapkan upaya pelayanan kesehatan promotif, preventif dan kuratif dilaksanakan secara terintegrasi melalui pelayanan kesehatan pemberantasan penyakit berbasis lingkungan di luar maupun di dalam gedung Puskesmas.
Puskesmas memiliki misi untuk menyelenggarakan upaya kesehatan esensial yang bermutu, merata, dan terjangkau sesuai dengan kebutuhan masyarakat, untuk meningkatkan status kesehatan masyarakat di wilayah kerjanya. Untuk itu dilakukan dengan cara membina peran serta, upaya kesehatan inovatif, dan pemanfaatan teknologi tepat guna.
Bertitik tolak dari hal-hal di atas, maka lahir konsep Klinik Sanitasi sebagai suatu upaya terobosan yang memadukan ketiga jenis upaya pelayanan kesehatan dalam rangka peningkatan derajat kesehatan masyarakat secara terpadu, terarah dan berkesinambungan. Konsep ini pertamakali diperkenalkan dan dikembangkan oleh Puskesmas Wanasaba Kabupaten/Kota Lombok Timur Propinsi Nusa Tenggara Barat sejak Nopember 1995 dan selanjutnya kegiatan ini diikuti oleh beberapa Puskesmas yang ada di Propinsi Jawa Timur, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Sumatera Selatan dan Kalimantan Selatan. Saat ini (th. 2003) Klinik Sanitasi sudah dikembangkan lebih dari 1.000 Puskesmas di seluruh Propinsi di Indonesia. Dengan makin berkembangnya kegiatan Klinik Sanitasi maka kepada mahasiswa khususnya yang bergerak dibidang kesehatan lingkungan dan atau sanitasi, perlu disosialisasikan agar pengembangannya jauh lebih baik dan lebih berkembang kearah yang positif dan menguntungkan semua pihak.
II.    Pendekatan Pemecahan Masalah Pelayanan Kesehatan Lingkungan

A.                Pendekatan Sistem

Sistem merupakan suatu tatanan dari hal-hal yang saling berkaitan dan berhubungan sehingga membentuk satu kesatuan dan keseluruhan.
Sistem Kesehatan Nasional adalah suatu tatanan yang mencerminkan upaya Bangsa Indonesia untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal sebagai perwujudan kesejahteraan umum seperti dimaksud dalam Pembukaan UUD 1945

Sistem merupakan kumpulan unsur-unsur yang saling berinterkasi, berhubungan dan bergantungan untuk menuju tujuan bersama .

Sistem adalah suatu tatanan yang terdiri dari bahagian-bahagian, unsur-unsur atau proses-proses yang kait mengkait saling bergantungan dan saling berhubunganyang secara bersama melakukan beberapa fungsi untuk menyelesaikan suatu atau kumpulan tujuan Sistem merupakan suatu tatanan di mana terjadi suatu kesatuan usaha dari berbagai unsur yang saling berkaitan secara teratur menuju pencapaian tujuan dalam suatu batas lingkungan tertentu.

Analisis sistem sebagai salah satu metode ilmiah dengan ciri sebagaimana di bawah ini.
1)      logis, artinya masuk akal yaitu sesuai hukum ilmiah.
2)      obyektif, artinya sesuai dengan fakta, untuk itu perlu mencari data.
3)      sistematis, artinya memiliki keteraturan internal tidak semrawut
4)      andal, artinya dapat diuji dan diuji kembali secara terbuka
5)      dirancang dan
6)      direncanakan serta
7)      kumulatif, artinya sebagai acuan penting bagi kegiatan ilmiah selanjutnya dalam upaya pengembangan ilmu.

Dengan demikian maka dalam upaya pemecahan masalah kesehatan lingkungan perlu dilakukan melalui pendekatan sistem, dengan harapan semua mitra kerja terkait bekerja sama untuk menyusun rencana secara terpadu dalam penanganan upaya kesehatan lingkungan

B.     Pendekatan Paradigma Kesehatan dan Paradigma Kesehatan Lingkungan

Paradigma Sehat “Shifting the Mindset”, sebagai upaya merobah alur pikir masyarakat tentang sehat
           
Business Sakit ke Business Sehat (“Core-Business”)
Prevent the Problems rather then Treating the Problems

Visi Indonesia Sehat 2010,

10 Tahun kedepan, Indonesia Sehat 2010

bertujuan Memperbaiki ”Human Development Index” Indonesia
Misi dan Strategi Indonesia Sehat 2010
 “Shifting the Minset”  
Sakit
 
Sehat
 
                                                              ke                                         
                         Dari
Paradigma Sehat
 
 

                                                               ke                                        
Paradigma Sakit
 
                         Dari
Bisnis Sehat
 
 

Bisnis Sakit
 
                                                                             ke                                      
                         Dari

Misi dan Strategi Indonesia Sehat 2010
Sesungguhnya:
1) Pembangunan Berwawasan Kesehatan (Paradigma Sehat)
2) Profesionalisme
3) JPKM
4) Desentralisasi

Gambar   1.   Skema  Interaksi antara Kesehatan, In-come dan
                           Pendidikan
 









Sumber:
Melahirkan suatu ciri tentang Masyarakat Indonesia sebagaimana berikut ini.
1)      Sakit-sakitan (Kesehatan)
2)      Bodoh (Pendidikan)
3)      Miskin (In-come)

Visi (merupakan Pandangan kedepan);
            Paradigma kesehatan lingkungan merupakan
Pendekatan paradigma kesehatan lingkungan berdasarkan teori simpul
          Gambar  2.   Paradigma Kesehatan Lingkungan
 
















Simpul 4
 
Simpul 3
 
Simpul 2
 
Simpul 1
 
  
                                                                                                                                                                                                                       
Sumber:  Acmadi, 1987; Paradigma Kesehatan Lingkungan dan Kesehatan Kerja; Jakarta:  Mimeograph; FKMUI
Patogenesis penyakit terkait erat dengan kesehatan lingkungan, di mana ilmu kesehatan sebagai ilmu yang mempelajari hubungan interaktif antara komponen lingkungan yang memiliki potensi bahaya penyakit dengan berbagai variabel meliputi kependudukan, perilaku dan pelayanan kesehatan. Di samping itu ilmu kesehatan lingkungan memiliki metode, baik dalam pengukuran maupun solusi terhadap masalah yang ditimbulkan.

Bila dicermati pengertian tentang lingkungan memang amat luas cakupan dan jangkauannya, namun kesehatan lingkungan fokus perhatiannya pada faktor lingkungan yang memiliki potensi menimbulkan penyakit.

Sebagai contoh kita sedang berada pada suatu tempat, maka berbagai benda hidup dan benda mati ada di sekitar kita, dalam hal ini disebut sebagai lingkungan manusia, namun tidak semua yang ada disekitar kita dapat menimbulkan atau berpotensi menibulkan penyakit.

     Gambar  3.  Diagram Skematik Patogenesis Penyakit
 










Sumber: Achmadi, Umar Fahmi, 2005; Manajemen Penyakit Berbasis Wilayah;
               Jakarta: Penerbit Buku Kompas. h. 25
C.     Pendekatan Epidemiologi

Menurut John Gordon ada 3 aspek yang menyebabkan terjadinya penyakit meliputi sebagaiman di bawah ini.
1)      agent yang berasal dari sifat pembawaan agen yang memiliki kemampuan menimbulkan penyakit,
2)      penjamu (”host”) terkait dengan manusia, terutama mencakup faktor biologi (Umur), jenis kelamin, suku bangsa, kekebalan khusus, dan lain-lain sifat yang terkait dengan kekebalan dan resistensi atau perilaku (dalam bentuk kebiasaan dan adat istiadat),
3)      faktor lingkungan (”environment”) meliputi seluruh aspek di luar agen dan manusia (host), dengan demikian lingkungan sangat beraneka ragam dan umumnya meliputi 2 kategori (fisik meliputi lingkungan alamiah yang terdapat sekitar manusia) dan lingkungan non-fisik merupakan lingkungan yang muncul sebagai akibat adanya interaksi antar manusia meliputi faktor sosial budaya, norma, nilai dan adat istiadat).

Faktor Penyabab (“Agent”) meliputi:
Biologis:          Kimia:                                     Fisik:  
Protozoa          Pestisida                                  Panas
Metazoa          Zat tambahan pd.mak.                        Cahaya
Bakteri                        Obat-obatan                            Sinar X
Virus               Zat-zat kimia industri              Kebisingan
Ricketsia                                                         Getaran
Jamur                                                               Benda meluncur
                        dll
 
Faktor Lingkungan (“Environment”) meliputi:
Fisik:  
Panas                           Udara
Cahaya                                    Musim
Sinar X                        Kondisi Geologis
Kebisingan                  Getaran
Benda meluncur          dll
 
Faktor Lingkungan (“Environment”) meliputi:
Lingk.Biologik:                      
Protozoa                                          Metazoa             
Bakteri                                                        Virus                              
Ricketsia                                         Jamur      
Hewan  & tumbuh-tumbuhan         Mikroorganisme saprophit
Tumbuhan sumber nutrient
sebagai  vektor penyakit dll
 
Faktor Penjamu (“Host”) meliputi:
Umur                                       Penyakit sebelumnya
Jenis Kelamin                          Gaya hidup
Ethnis                                      Status Sosial Ekonomi
Keturunan                               Gizi                            
Status perkawinan dll
 
 




































Gambar  4. Model Segitiga Epidemiologi

 









Pendekatan Ekologi

Ekologi merupakan suatu ilmu yang mempelajari tentang hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya (Ralph and Mildre B, 1970 h.3 dalam Mukono, H.J., 2000.

Prinsip Dasar Kesehatan Lingkungan, Cetakan Pertama, Airlangga University Press, h.30).  Ekologi berasal dari kata Oikos  berarti rumah atau tempat tinggal dan Logos berarti studi. Pertama kali disitir oleh Ernest Haeckel seorang ahli biologi  Jerman tahun 1869.

Ekologi meliputi 2 kajian sbb.;
1)      Autekologi membahas tentang interaksi organisme dengan lingkungannya (siklus hidup organisme, adaptasi terhadap lingkungan
2)      Sinekologi membahas tentang interaksi kelompok organisme di daerha tertentu (ekologi populasi, ekologi komunitas)

Menurut habitat ekologi meliputi sbb.;
1)      ekologi dasar
2)      ekologi perairan dll.

Menurut Taksonomi eklogi meliputi sbb.;
1)      ekologi tumbuhan
2)      ekologi manusia dll

Ekologi kesehatan pada prinsipnya meliputi segala sesuatu mengenai interaksi antara lingkungan alam dan kondisi kesehatan masyarakat. Faktor alam seperti matahari, atmosfir, air dan tanah akan mempengaruhi lingkungan tempat masyarakat berada.
       
Sedangkan lingkungan itu sendiri dari lingkungan buatan dan lingkungan alami. Lingkungan buatan akan dipengaruhi oleh kondisi alam seperti iklim.

Dalam kaitannya dengan lingkungan buatan, maka masyarakat akan mengolah lingkungan buatan tersebut menghasilkan suatu produk.

Produk ini menimbulkan adanya pihak produsen dan pihak konsumen di samping itu maka unsur atau faktor lingkungan alam dan lingkungan buatan ikut beriteraksi dan pada gilirannya menimbulkan dampak baik yang positif (meningkatkan kesejahteraan masyarakat) maupun yang negatif (bencana alam, penyakit dsb.)

Konsep ekologi kesehatan (”Concept of Health Ecology”) bersumber dari tulisan Shosuke Suzuki (1988) dalam bukunya ”Health Ecology in Indonesia” Syosei Corporation Japan dalam Mukono, H.J., 2000. Prinsip Dasar Kesehatan Lingkungan, Cetakan Pertama, Airlangga University Press, h. 32)

IV. Prospek Pendidikan Tenaga Kesehatan Lingkungan Pada Masa Depan

A.    Prospek pada Pelayanan Kesehatan Lingkungan Pemerintah

Upaya pelayanan kesehatan lingkungan pada awalnya hanya dikaitkan dengan upaya yang terkait dengan sumur, jamban, sampah, air minum, dan makanan minuman. Upaya kesehatan lingkungan masih sering dikaitkan dengan kebersihan lingkungan rumah tangga atau wilayah kampung setempat, sehingga kehilangan interaksi dengan faktor ekologis yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan sosial kemasyarakatan yang jauh lebih luas.

Misalnya suhu di dalam rumah yang panas tidak dapat diselesaikan hanya dengan memperbaiki ventilasi di dalam rumah, namun upaya kesehatan lingkungan perlu diliat secara luas, yakni dengan melibatkan berbagai satuan-satuan ekosistem yang utuh, seperti ekosistem kota, ekosistem desa, daerah aliran sungai, pantai, pulau atau yang lebih besar lagi.

Disadari bahwa kesehatan lingkungan merupakan faktor penting dalam kehidupan sosial kemasyarakatan, bahkan merupakan salah satu unsur penentu atau determinan dalam kesejahteraan penduduk. Di mana lingkungan yang sehat sangat dibutuhkan bukan hanya untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, tetapi juga untuk kenyamanan hidup dan meningkatkan efisiensi kerja dan belajar.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingginya angka kematian bayi pada suatu daerah disebabkan karena faktor perilaku (perilaku perawatan pada saat hamil dan perawatan bayi, serta perilaku kesehatan lingkungan ) dan faktor kesehatan lingkungan.

Pada masa yang datang pemerintah lebih fokus pada pelaksanaan pembangunan yang berkelanjutan dan pengembangan wilayah yang berkesadaran lingkungan, sementara pihak pengguna infrastruktur dalam hal ini masyarakat secara keseluruhan harus disiapkan dengan kesadaran lingkungan yang lebih baik (tahu sesuatu atau tahu bersikap yang semestinya)

Masa datang kita dihadapkan dengan penggunaan IPTEK yang lebih maju dan lebih kompleks yang memerlukan profesionalisme yang lebih baik dengan jenjang pendidikan yang memadai.

Di samping itu dalam proses pembangunan masa datang, diperlukan adanya teknologi kesehatan lingkungan yang menitik beratkan upayanya pada metodologi mengukur dampak kesehatan dari pencemaran yang ditimbulkan oleh adanya pembangunan, Indikator ini harus mudah, murah untuk diukur juga sensitif menunjukkan adanya perubahan kualitas lingkungan.

Demikian pula dalam melakukan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL), maka diperlukan adanya keterlibatan Analisis Dampak Kesehatan Lingkungan (ADKL),
untuk mengamati berbagi faktor risiko (”risk factor”) yang ada di lingkungan, mengingat selama ini aspek kesehatan jarang disentuh oleh AMDAL Hal ini menuntut tersedianya tenaga yang dapat menangani hal ini.
Di samping itu kita juga dituntut untuk membuat model dinamika kualitas kesehatan masyarakat atau penduduk yang dikaitkan dengan ”Risk factor” di  lingkungan tempat tinggal penduduk, yang merupakan teknologi yang dapat menunjang pelaksanaan pembangunan berwawasan lingkungan

B.     Prospek pada Pelayanan Kesehatan Lingkungan di Swasta

Perkembangan berbagai kawasan seperti kawasan industri, kawasan perumahan, kawasan transportasi, kawasan wisata atau tempat-tempat umum, maka menuntut pula perkembangan wilayah disertai dengan tuntutan pengadaan infrastruktur, disertai dengan upaya rekayasa penanggulangan kerusakan lingkungan yang terjadi setelah fase konstruksi. Hal ini menunjukkan belum berjalannya perencanaan pembangunan berwawasan lingkungan.

Mencermati hal ini, maka prospek keberadaan tenaga kesehatan lingkungan yang berkualitas dengan jenjang yang lebih baik akan dapat menyelesaikan permasalahan seperti yang terjadi saat ini.
V.    Simpulan

Prospek pendidikan tenaga kesehatan lingkungan dan lulusannya pada masa mendatang yang penuh tantangan dan peluang, akan lebih kompetitif dan lebih profesional terutama dalam menghadapi upaya pemerintah yang lebih fokus pada pembangunan dibidang industri yang dikenal dengan indutrialisasi dan menuju pasar bebas.

Disadari bahwa makin berkembang industri dan perdagangan suatu negara, makin membutuhkan peningkatan kualitas lingkungan, dengan demikian maka tenaga kesehatan lingkungan makin dibutuhkan dibandingkan dengan upaya kesehatan kerja akan makin menurun kebutuhannya di mana industri lebih banyak memanfaatkan robot.

Dalam menghadapi masa depan, hanya dengan tekad, kemauan, kesungguhan, kedisiplinan dan usaha yang sungguh-sungguh disertai dengan imam dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa yang mampu menghadapi persaingan pada masa depan

Melihat Kecocokan Jodoh Kita Dari Urutan Lahir


Setiap orang pasti memiliki urutan lahir dalam keluarga. Anda bisa saja adalah anak pertama, anak tengah, bungsu, atau anak tunggal. Menurut para pakar hubungan, urutan kelahiran Anda ternyata bisa memengaruhi kelanggengan berhubungan Anda.
Anak pertama
Karena anak pertama umumnya selalu diminta untuk bertanggung jawab atas adik-adiknya, biasanya mereka akan tumbuh menjadi orang yang dominan, sangat bertanggung jawab, terorganisir, dan kompetitif.
Anak tengah
Anak tengah adalah tipe yang senang mencoba membuat orang lain bahagia (istilahnya, people pleaser). Anak tengah secara alami adalah tipe yang pandai berdiplomasi, dan sulit untuk membuat mereka mengambil sisi atau keputusan. Anak tengah juga cenderung pandai memanipulasi.
Anak bungsu
Anak bungsu adalah tipe yang mudah bergaul dan kreatif, serta lebih suka keadaan seperti apa adanya dan tak begitu menyukai perbedaan. Anak bungsu adalah tipe yang lebih suka berpetualang ketimbang saudara-saudaranya, meski mereka juga butuh bersandar dan manja sewaktu-waktu.
Anak tunggal
Anak tunggal biasa menjadi pusat perhatian di dalam keluarga, jadi ia cenderung haus perhatian. Menjadi anak tunggal kadang menandakan ketidaktahuannya akan lawan jenis. Ia sering kebingungan bagaimana menghadapi lawan jenis.
Kembar
Anak kembar memiliki ikatan yang kuat, dan sering bersandar satu sama lain saat akan memutuskan sesuatu. Mereka tipe yang terbiasa akan hadirnya partner, sehingga membuat mereka menjadi pasangan yang romantis.
Kecocokannya:
Ketika menyangkut urutan lahir dan kelanggengan berhubungan, studi menunjukkan bahwa hal yang sangat berbeda akan saling tarik menarik. “Pasangan yang keduanya merupakan anak pertama, contohnya, memiliki peringkat yang sama dan cenderung bertengkar untuk memperebutkan kursi kepemimpinan,” jelas Cane. Begitu pun dengan pasangan yang sama-sama anak bungsu, yang bisa diperkirakan, mereka akan menemukan masalah mengenai siapa yang harus “diasuh” dalam hubungan tersebut, dan siapa yang harus menjadi kepala keluarga.
Paling cocok:
Anak pertama dan anak bungsuAnak tengah dengan anak bungsuAnak tunggal dengan anak bungsu. Hubungan ini akan berlangsung sangat baik, karena si anak bungsu akan mengajarkan pasangannya bagaimana cara bersantai dan tenang untuk menghadapi berbagai persoalan. Sementara anak pertama/anak tengah/anak tunggal akan mengajarkan si bungsu pentingnya keteguhan hati dan betapa pentingnya untuk menghadapi hidup sewaktu-waktu.
Tak terlalu cocok:
Anak pertama dan anak pertama
Ketika dua orang yang sangat bossy berpasangan, sudah bisa diperkirakan akan terjadi friksi tinggi. Akan ada banyak konflik di kedua pihak untuk mencari kontrol atau mereka bisa jatuh ke tipe orang yang saling mengkontrol.

Anak bungsu dan anak bungsu

Kedua individu yang penuh petualangan ini memang bisa diartikan sebagai keseruan dan kegilaan di awal hubungan, namun tidak adanya orang yang menjadi kepala dalam hubungan, sudah bisa diperkirakan, hubungan ini bisa berubah menjadi chaos.
Anak tunggal dan anak tunggal
Selain masalah siapa yang akan mengkontrol hubungan, masing-masing mereka akan sama-sama kebingungan mengenai pasangannya.

Menguak Rahasia Nasib Manusia


Nasib manusia cuma ada dua yaitu baik atau buruk, yang menurut kepercayaan orang Jawa hal tersebut sangat dipengaruhi oleh WETON, yaitu hari dan pasaran pada saat manusia dilahirkan kealam dunia. Jadi garis kehidupan manusia sudah ditentukan sejak lahir dan tidak ada yang bisa merubahnya.Nah bagaimana dengan nasib anda, apakah anda termasuk golongan orang yang bernasib baik atau sebaliknya ?
Yang menjadi persoalan tentunya jika kita selama ini merasa  kurang beruntung karena mungkin sulit dalam mencari rejeki atau sering tertimpa kesialan.Anda ingin tahu kenapa ?
Baiklah, berikut akan saya coba mengungkap rahasia dibalik nasib yang menimpa anda.


ANGKA PERUNTUNGAN
Dalam perhitungan Jawa dikenal apa yang disebut sebagai angka peruntungan yang terdiri dari bilangan 1 sampai dengan 7 yang masing-masing memiliki makna yang berbeda
1 = mati
2 = kekayaan
3 = bertolak belakang
4 = kehilangan
5 = kehormatan
6 = lancar
7 = pegat


I. Weton yang memiliki angka peruntungan 1 adalah JUMAT PON dan RABO KLIWON.
Artinya adalah mati dalam pengertian yang luas.
Bisa juga berarti kegagalan. Orang dengan weton diatas sering mengalami kendala dalam hidupnya. Keberhasilan hanya mungkin jika mau bekerja keras dan pantang putus asa.
Yang sering terjadi adalah mati langkah atau mati pemikiran sehingga nasibnya susah untuk berubah alias jalan ditempat. Terlebih-lebih jika dalam melangkah suka sembrono, maka kegagalan demi kegagalan banyak mewarnai hidupnya.
Yang penting dalam melakukan usaha tidak boleh seenaknya atau grusa-grusu, tapi sebaliknya yaitu harus ekstra hati-hati.
Meskipun bayangan kegagalan selalu menghantui, tapi tidak berarti bahwa hidupnya akan hancur, asalkan mau untuk tetap eling lan waspodo. Artinya eling atau ingat kepada Yang Maha Kuasa ketika rejekinya sedang membaik dan waspada atau hati-hati dalam melangkah dikala rejekinya sedang sulit

                 II. Weton yang memiliki angka peruntungan 2 adalah SABTU WAGE, JUM'AT KLIWON, SENIN PON, RABO PAHING, KAMIS PON, SELASA PON dan MINGGU PON.

Artinya adalah kekayaan dalam pengertian yang luas.
Bisa juga diartikan sebagai keberhasilan. Orang dengan weton diatas termasuk yang beruntung karena jarang atau hampir tidak pernah menemui kendala yang berarti dalam hidupnya. Usaha yang dilakukan lebih banyak berhasil daripada gagalnya. Kalau mau berusaha lebih keras maka akan menghantarkannya menuju sukses sesuai yang dicita-citakan.
Oleh karenannya yang perlu diingat disini adalah harus selalu mensyukuri rejeki yang didapatkan sehingga akan memperoleh nikmat yang lebih.

             III. Weton yang memiliki angka peruntungan 3 adalah SELASA KLIWON, MINGGU KLIWON, SABTU LEGI, JUM'AT PAHING, SENIN KLIWON dan KAMIS KLIWON.

Artinya adalah bertolak belakang dalam pengertian luas.
Kelompok weton dengan angka pengaruh 3 memiliki sifat yang kontradiktif. Misalnya dalam hal pemikiran sering berlawanan dengan pendapat orang lain, sehingga sulit untuk menjalin hubungan yang harmonis dengan orang lain. Selain itu dalam melakukan usaha yang terjadi seringnya juga aneh, yaitu jika dilakukan dengan sungguh-sungguh atau serius justru akan menemui kegagalan, tapi kalau hanya sekedar iseng atau main-main malahan berhasil.
Boleh dikata ini merupakan kelompok yang paling unik, karena sukses yang dicapai sering bukan dari hasil kerja keras, tapi hanya bersifat kebetulan yang mungkin hanya diawali dari sebuah keisengan atau hobi semata.

             IV. Weton yang memiliki angka peruntungan 4 adalah KAMIS PAHING, SELASA PAHING, MINGGU PAHING, SENIN PAHING dan RABO WAGE.

Artinya kehilangan dalam pengertian yang luas.
Kehilangan disini bisa diartikan sebagai merugi. Oleh karenanya harus sangat berhati-hati jika melakukan usaha, karena jikalau tidak akan sering mengalami kebangkrutan. Biasanya kebangkrutan yang terjadi adalah karena akibat ditipu orang lain. Atau bisa juga karena banyaknya pengeluaran-pengeluaran yang tak terduga, misalnya karena kecelakaan, sakit, uangnya dipinjam orang tapi susah kembalinya, atau karena kesialan-kesialan lainnya. Artinya rejeki yang didapat mudah hilang kembali oleh karena faktor atau sebab tertentu.


             V. Weton yang memiliki angka peruntungan 5 adalah RABOLEGI, SABTU PON dan JUM'AT WAGE.
Artinya kehormatan dalam pengertian yang luas.
Orang-orang yang memiliki weton tersebut cenderung memperoleh derajat, kehormatan dan juga kewibawaan. Artinya bahwa pembawaannya memberi pengaruh terhadap orang lain sehingga dihormati atau disegani.
Oleh karenanya yang paling penting disini adalah bisa memanfaatkan pengaruh terhadap orang lain ini untuk tujuan yang positif, maka diharapkan akan mudah tercapai apa yang dicita-citakan. Kendala mungkin ada, tapi selalu bisa diatasi.

              VI. Weton yang memiliki angka peruntungan 6 adalah KAMIS WAGE, SABTU WAGE, MINGGU WAGE, SABTU KLIWON, JUM'AT LEGI dan SENIN WAGE.

Artinya lancar dalam pengertian yang luas.
Lancar bisa juga diartikan sebagai tercapai tujuannya, sehingga orang-orang dengan weton diatas umumnya jarang mengalami hambatan, dan memperoleh keselamatan dalam berusaha. Kendala mungkin ada tapi selalu bisa diatasi, dan meskipun hasilnya tidak selalu berlebihan tapi selalu berkecukupan. Oleh karenanya yang lebih penting adalah harus selalu mensyukuri apa yang didapat dan tidak perlu khawatir kekurangan asalkan tetap mau berusaha.


             VII. Weton yang memiliki angka peruntungan 7 adalah SENIN LEGI, RABO PON, KAMIS LEGI, SELASA LEGI, MINGGU LEGI, dan SABTU PAHING..

Artinya pegat atau cerai dalam pengertian yang luas.
Pegat atau pisah disini bisa berarti jauh rejeki, jodoh atau susah cari kerja. Kalau berkeluarga cenderung kurang harmonis, mungkin disebabkan karena pekerjaannya yang jauh dari rumah, atau suami istri jarang ketemu karena kesibukan masing-masing.
Selain itu jika bekerja sering tidak betah dan inginnya keluar saja, sehingga kalau tidak hati-hati atau gegabah dalam membuat keputusan hidupnya bisa gagal berantakan. Maka untuk orang-orang dengan weton tersebut diatas harus memiliki kemampuan mengendalikan diri yang sangat kuat dan sulalu berusaha untuk tidak emosional dalam menghadapi berbagai persoalan supaya hidupnya tetap selamat dan sejahtera meskipun mungkin tidak selalu berkelebihan.


KESIMPULAN
Yang bernasib kurang beruntung adalah yang memiliki weton :
1. Jum'at Pon
2. Rabo Kliwon
3. Selasa Kliwon
4. Minggu Kliwon
5. Sabtu Legi
6. Jum'at Pahing
7. Senin Kliwon
8. Kamis Kliwon
9. Kamis Pahing
10. Selasa Pahing
11. Minggu Pahing
12. Senin Pahing
13. Rabo Wage
14. Senin Legi
15. Rabo Pon
16. Kamis Legi
17. Selasa Legi
18. Minggu Legi
19. Sabtu Pahing



Selebihnya ada 16 weton yang tergolong orang-orang beruntung karena memiliki angka peruntungan yang baik.

Secara garis besar bisa disimpulkan bahwa jumlah antara yang bernasib kurang beruntung agak sedikit lebih banyak dibanding yang beruntung. Dan diantara yang kurang beruntung sesungguhnya hanya ada 2 yang bernasib paling menyedihkan, yaitu Jum'at Pon dan Rabo Kliwon karena angka peruntungannya adalah 1 yang berarti mati dalam arti luas. Oleh karenanya bagi yang  memiliki weton tersebut janganlah merasa heran jika dalam menjalani hidupnya akan terasa berat dan sering mengalami kegagalan.
Oleh karena itu tidak ada salahnya bagi mereka-mereka yang kurang beruntung  untuk bisa bergabung dan saling berbagi pengalaman, tentunya dengan harapan untuk bisa  saling meringankan beban dan bersama mencari jalan keluar dari kesulitan yang dihadapi. Setuju ? Bagaimana Bro, OKE OKE ? Setuju sajalah gitu lho !!!!!!!!

STRUKTUR & FUNGSI SISTEM KARDIOVASKULER



PENDAHULUAN
Jantung terletak didalam rongga mediastinum dari ronga dada (toraks) diantara kedua paru. Selaput yang melapisi jantung disebut perikardium yang terdiri atas 2 lapisan:
  • Perikardium parietalis, yaitu lapisan luar yang melekat pada tulang dada dan selaput paru.
  • Perikardium viseralis, yaitu lapisan permukaan dari jantung itu sendiri yang juga disebut epikardium.
Diantara kedua lapisan tersebut terdapat cairan perikardium sebagai pelumas yang berfungsi mengurangi gesekan akibat gerak jantung saat memompa.
STRUKTUR JANTUNG
Dinding jantung terdiri dari 3 lapisan:
  1. Lapisan luar disebut epikardium atau perikardium.
  2. Lapisan tengah merupakan lapisan berotot, disebut miokardium.
  3. Lapisan dalam disebut endokardium.
RUANG JANTUNG
Jantung terdiri dari 4 ruang, yaitu dua ruang yang berdinding tipis disebut atrium (serambi), dan 2 ruang yang berdinding tebal disebut ventrikel (bilik).
  1. Atrium
  2. Atrium kanan berfungsi sebagai penampungan darah yang rendah oksigen dari seluruh tubuh. Darah tersebut mengalir melalui vena kava superior, vena kava inferior, serta sinus koronarius yang berasal dari jantung sendiri. Dari atrium kanan kemudian darah di pompakan ke ventrikel kanan.
  1. Atrium kiri menerima darah yang kaya akan oksigen dari paru melalui 4 buah vena pulmonalis. Kemudian darah dialirkan ke ventrikel kiri.
Antara kedua atrium dipisahkan oleh sekat yang disebut septum atrium.
  1. Ventrikel
  2. Ventrikel kanan, menerima darah dari atrium kanan yang kemudian dipompakan ke paru melalui arteri pulmonalis.
  3. Ventrikel kiri, menerima darah dari atrium kiri kemudian memompakannya ke seluruh tubuh melalui aorta.
Kedua ventrikel dipisahkan oleh sekat yang disebut septum ventrikel.
KATUP JANTUNG
  1. Katup Atrioventrikuler
Merupakan katup yang terletak diantara atrium dan ventrikel.. katup antara atrium kanan dan ventrikel kanan mempunyai tiga buah daun katup disebutkatup trikuspidalis. Sedangkan katup yang terletak diantara atrium kiri dan ventrikel kiri mempunyai dua buah daun katup disebut katup bikuspidalisatau katup mitral.
Katup AV memungkinkan darah mengalir dari masing-masing atrium ke ventrikel pada waktu diastole ventrikel, serta mencegah aliran balik ke atrium pada saat sistol ventrikel.
  1. Katup Semilunar
Katup pulmonal, terletak antara arteri pulmonalis dan ventrikel kanan.
Katup aorta, terletak antara ventrikel kiri dan aorta.
Kedua katup semilunar terdiri dari 3 daun katup. Adanya katup semilunar memungkinkan darah mengalir dari masing-masing ventrikel ke arteri pulmonalis atau aorta selama sistol ventrikel, dan mencegah aliran balik ke ventrikel sewaktu diastole ventrikel.
Arteri Koroner
Arteri koroner adalah cabang pertama dari sirkulasi sistemik. Sirkulasi koroner terdiri dari: arteri koroner kanan dan arteri koroner kiri. Arteri koroner bermuara di sebelah atas daun katup aorta yang disebut ”sinus valsava”.
Vena Jantung
Distribusi vena koroner sesungguhnya paralel dengan distribusi arteri koroner. Sistem vena jantung terdiri dari 3 bagian: vena tebesian, vena kardiaka anterior, sinus koronaria.
PEMBULUH DARAH
Keseluruhan sistem peredaran (sistem kardiovaskuler) terdiri dari arteri, arteriola, kapiler, venula dan vena.
Arteri
Arteri berfungsi untuk transportasi darah dengan tekanan yang tinggi ke seluruh jaringan tubuh. Dinding arteri kuat dan elastis (lentur), kelenturannya membantu mempertahankan tekanan darah diantara denyut jantung. Dinding arteri banyak mengandung jaringan elastis  yang dapat teregang saat sistol dan mengadakan rekoil saat diastol.
Arteriola
Merupakan cabang paling ujung dari sistem arteri, berfungsi sebagai katup pengontrol untuk mengatur pengaliran darah ke kapiler. Arteriol mempunyai dinding yang kuat sehingga mampu kontriksi atau dilatasi beberapa kali ukuran normal, sehingga dapat mengatur aliran darah ke kapiler. Otot arteriol dipersarafi oleh serabut saraf kolinergik yang berfungsi vasodilatasi. Arteriol merupakan penentu utama resistensi/tahanan aliran darah, perubahan pada diameternya menyebabkan perubahan besar pada resistensi.
Kapiler
Merupakan pembuluh darah yang halus dan berdinding sangat tipis, yang berfungsi sebagai jembatan diantara arteri (membawa darah dari jantung) dan vena (membawa darah kembali ke jantung).
Kapiler memungkinkan oksigen dan zat makanan berpindah dari darah ke dalam jaringan dan memungkinkan hasil metabolisme berpindah dari jaringan ke dalam darah.
Venula
Dari kapiler darah mengalir ke dalam venula lalu bergabung dengan venul-venul lain ke dalam vena, yang akan membawa darah kembali ke jantung.
Vena
Vena memiliki dinding yang tipis, tetapi biasanya diameternya lebih besar daripada arteri, sehingga vena dapat mengangkut darah dalam volume yang sama tetapi dengan kecepatan yang lebih rendah dan tidak terlalu dibawah tekanan. Karena tekanan dalam sistem vena rendah maka memungkinkan vena berkontraksi sehingga mempunyai kemampuan untuk menyimpan atau menampung darah sesuai kebutuhan tubuh.
SIRKULASI JANTUNG
Lingkaran sirkulasi jantung dapat dibagi menjadi dua bagian besar yaitu sirkulasi sistemik dan sirkulasi pulmonal. Namun demikian terdapat juga sirkulasi koroner yang juga berperan sangat penting bagi sirkulasi jantung.
Sirkulasi Sistemik
  1. Mengalirkan darah ke berbagai organ tubuh.
  2. Memenuhi kebutuhan organ yang berbeda.
  3. Memerlukan tekanan permulaan yang besar.
  4. Banyak mengalami tahanan.
  5. Kolom hidrostatik panjang.
Sirkulasi Pulmonal
  1. Hanya mengalirkan darah ke paru.
  2. Hanya berfungsi untuk paru-paru.
  3. Mempunyai tekanan permulaan yang rendah.
  4. Hanya sedikit mengalami tahanan.
  5. Kolom hidrostatiknya pendek.
Sirkulasi Koroner
Efisiensi jantung sebagi pompa tergantung dari nutrisi dan oksigenasi yang cukup pada otot jantung itu sendiri. Sirkulasi koroner meliputi seluruh permukaan jantung dan membawa oksigen untk miokardium melalui cabang-cabang intramiokardial yang kecil-kecil.
Aliran darah koroner meningkat pada:
  • Peningkatan aktifitas
  • Jantung berdenyut
  • Rangsang sistem saraf simpatis
MEKANISME BIOFISIKA JANTUNG
Tekanan Darah
Tekanan darah (blood pressure) adalah tenaga yang diupayakan oleh darah untuk melewati setiap unit atau daerah dari dinding pembuluh darah. Faktor yang mempengaruhi tekanan darah adalah: curah jantung, tahanan pembuluh darah perifer, aliran, dan volume darah.
Bila seseorang mangatakan tekanan darahnya adalah 100 mmHg maka tenaga yang dikeluarkan oleh darah dapat mendorong merkuri pada tabung setinggi 50 mm.
Aliran Darah
Aliran darah pada orang dewasa saat istirahat adalah 5 L/menit, ayang disebut sebagai curah jantung (cardiac output). Aliran darah melalui pembuluh darah dipengaruhi oleh dua faktor:
  • Perbedaan Tekanan ( DP: P1-P2), merupakan penyebab terdorongnya darah melalui pembuluh.
  • Hambatan terhadap aliran darah sepanjang pembuluh, disebut juga sebagai ”vascular resistance” atau tahanan pembuluh.
Beda tekanan antara dua ujung pembuluh darah menyebabkan darah mengalir dari daerah bertekanan tinggi ke daerah bertekanan rendah, sedangkan resistensi / tahanan menghambat aliran darah.
Rumus:       Q  : DP
R
Q       : aliran
DP      : perbedaan tekanan
R       : resistensi
Resistensi
Resistensi/tahanan adalah hambatan terhadap aliran darah terhadap suatu pembuluh yang tidak dapat diukur secara langsung. Resistensi dipengaruhi oleh dua faktor yaitu: diameter pembuluh darah (terutama arteriol) danviskositas (kekentalan) darah. Peningkatan diameter pembuluh darah (vasodilatasi) akan menurunkan tahanan, sedangkan penurunan diameter pembuluh darah (vasokontriksi) dapat meningkatkan resistensi. Viskositas sebagaian besar dipengaruhi oleh kadar hematokrit (ht), yaiu prosentase volume darah yang ditempati oleh sel darah merah. Semakin tinggi viskositas darah, maka semakin meningkat pula resistensi pembuluh darah.
SIKLUS JANTUNG
Setiap siklus jantung terdiri dari urutan peristiwa listrik dan mekanik yang saling terkait. Rangsang listrik dihasilkan dari beda potensial ion antar sel yang selanjutnya akan merangsang otot untuk berkontraksi dan relaksasi. Kelistrikan jantung merupakan hasil dari aktivitas ion-ion yang melewati membran sel jantung. Aktivitas ion tersebut disebut sebagai potensial aksi. Mekanisme potensial aksi terdiri dari fase depolarisasi dan repolarisasi:
  • Depolarisasi
Merupakan rangsang listrik yang menimbulkan kontraksi otot. Respon mekanik dari fase depolarisasi otot jantung adalah adanya sistolik.
  • Repolarisasi
Merupakan fase istirahat/relaksasi otot, respon mekanik depolarisasi otot jantung adalah diastolik.
Fase Siklus Jantung
Mid Diastole
    Merupakan fase pengisian lambat ventrikel dimana atrium dan ventrikel dalam keadaan istirahat. Darah mengalir secara pasif dari atrium ke ventrikel melalui katup atrioventrikuler, pada saat ini katup semilunaris tertutup dan terdengar sebagai bunyi jantung kedua.
    Diastole Lanjut
      Gelombang depolarisasi menyebar melalui atrium berhenti pada nodus atrioventrikuler (nodus AV). Otot atrium berkontraksi memberikan 20%-30% pada isi ventrikel.
      Sistole Awal
        Depolarisasi menyebar dari sinus AV menuju miokardium ventrikel. Ventrikel berkontraksi menyebabkan tekanan dalam ventrikel lebih tinggi dari tekanan atrium sehingga menyebabkan katup atrioventrikuler menutup yang terdengar sebagai bunyi jantung satu. Dalam keadaan ini tekanan dalam aorta dan arteri pulmo tetap lebih besar, sehingga katup semilunar tetap tertutup. Kontraksi ventrikel ini disebut sebagai kontraksi isovolumetrik.
        Sistole Lanjut
          Tekanan ventrikel meningkat melebihi tekanan pembuluh darah sehingga menyebabkan katup semilunaris membuka. Setelah katup semilunar terbuka, terjadi ejeksi isi ventrikel kedalam sirkulasi pulmoner dan sistemik.
          Diastole Awal
            Gelombang repolarisasi menyebar ke ventrikel sehingga ventrikel menjadi relaksasi. Tekanan ventrikel turun melebihi tekanan atrium sehingga katum AV membuka. Dengan terbukanya katup AV maka ventrikel akan terisi dengan cepat, 70%-80% pengisian ventrikel terjadi dalam fase ini
            FAKTOR PENENTU KERJA JANTUNG
            Jantung sebagai pompa fungsinya dipengaruhi oleh 4 faktor utama yang saling terkait dalam menentukan isi sekuncup (stroke volume) dan curah jantung (cardiac output) yaitu:
            • Beban awal (pre load)
            • Kontraktilitas
            • Beban akhir (after load)
            • Frekuensi jantung
            Curah Jantung
            Curah jantung merupakan faktor utama yang harus diperhitungkan dalam sirkulasi, karena curah jantung mempunyai peranan penting dalam transportasi darah yang memasok berbagai nutrisi. Curah jantung adalah jumlah darah yang dipompakan oleh ventrikel selama satu menit. Nilai normal pada orang dewasa adalah 5 L/mnt.
            Isi Sekuncup (curah sekuncup)
            Isi sekuncup merupakan jumlah darah yang dipompakan keluar dari masing-masing venrikel setiap jantung berdenyut. Isi sekuncup tergantung dari tiga variabel: beban awal, kontraktilitas, dan beban akhir.
            Beban Awal
            Beban awal adalah derajat peregangan serabut miokardium pada akhir pengisian ventrikel. Hal ini sesuai dengan Hukum Starling: peregangan serabut miokardium selama diastole melalui peningkatan volume akhir diastole akan meningkatkan kekuatan kontraksi pada saat sistolik. Sebagai contoh karet yang diregangkan maksimal akan menambah kekuatan jepretan saat dilepaskan.
            Dengan kata lain beban awal adalah kemampuan ventrikel meregang maksimal saat diastolik sebelum berkontraksi/sistolik.
            Faktor penentu beban awal:
            • Insufisiensi mitral menurunkan beban awal
            • Stensosis mitral menurunkan beban awal
            • Volume sirkualsi, peningkatan volume sirkulasi meningkatkan beban awal. Sedangkan penurunan volume sirkulasi menurunkan beban awal.
            • Obat-obatan, obat vasokonstriktor meningkatkan beban awal. Sedangkan obat-obat vasodilator menurunkan beban awal.
            Beban Akhir
            Beban akhir adalah besarnya tegangan dinding ventrikel untuk dapat memompakan darah saat sistolik. Beban akhir menggambarkan besarnya tahanan yang menghambat pengosongan ventrikel. Beban akhir juga dapat diartikan sebagai suatu beban pada ventrikel kiri untuk membuka katup semilunar aorta, dan mendorong darah selama kontrakis/sistolik.
            Beban akhir dipengaruhi:
            • Stenosis aorta meningkatkan beban akhir
            • Vasokontriksi perifer meningkatkan beban akhir
            • Hipertensi meningkatkan beban akhir
            • Polisitemia meningkatkan beban akhir
              • Obat-oabatan, vasodilator menurunkan beban akhir, sedangkan vasokonstriktor meningkatkan beban akhir.
            Peningkatan secara drastis beban akhir akan meningkatkan kerja ventrikel, menambah kebutuhan oksigen dan dapat berakibat kegagalan ventrikel.
            Kontraktilitas
            Kontraktilitas merupakan kemampuan otot-otot jantung untuk menguncup dan mengembang. Peningkatan kontraktilitas merupakan hasil dari interaksi protein otot aktin-miosin yang diaktifkan oleh kalsium. Peningkatan kontraktilitas otot jantung memperbesar curah sekuncup dengan cara menambah kemampuan ventrikel untuk mengosongkan isinya selama sistolik.
            HUKUM FRANK STARLING
            1. Makin besar isi jantung sewaktu diastol, semakin besar jumlah darah yang dipompakan ke aorta.
            2. dalam batas-batas fisiologis, jantung memompakan ke seluruh tubuh darah yang kembali ke jantung tanpa menyebabkan penumpukan di vena.
            3. jantung dapat memompakan jumlah darah yang sedikit ataupun jumlah darah yang besar bergantung pada jumlah darah yang mengalir kembali dari vena.
            REGULASI TEKANAN DARAH
            Sistem Saraf
              Sistem saraf mengontrol tekanan darah dengan mempengaruhi tahanan pembuluh darah perifer. Dua mekanisme yang dilakukan adalah mempengaruhi distribusi darah dan mempengaruhi diameter pembuluh darah. Umumnya kontrol sistem saraf terhadap tekanan darah melibatkan: baroreseptor dan serabut2 aferennya, pusat vasomotor dimedula oblongata serta serabut2 vasomotor dan otot polos pembuluh darah. Kemoreseptor dan pusat kontrol tertinggi diotak juga mempengaruhi mekanisme kontrol saraf.
              Pusat Vasomotor mempengaruhi diameter pembuluh darah dengan mengeluarkan epinefrin sebagai vasokonstriktor kuat, dan asetilkolin sebagai vasodilator.
              Baroresptor, berlokasi pada sinus karotikus dan arkus aorta. Baroresptor dipengaruhi oleh perubahan tekanan darah pembuluh arteri.
              Kemoresptor, berlokasi pada badan karotis dan arkus aorta. Kemoreseptor dipengaruhi oleh kandungan O2, CO2, atau PH darah.
              Kontrol Kimia
                Selain CO2 dan O2, sejumlah kimia darah juga membantu regulasi tekanan darah melalui refleks kemoreseptor yang akan dibawa ke pusat vasomotor.
                Hormon yang mempengaruhi: epinefrin dan norepinefrin, Natriuretik Atrial, ADH, angiotensin II, NO, dan alkohol.